Mahkota Sultan Tidore

Senin, 20 Februari 2012

Mengungkap Jaringan Perampokan Bagasi di Bandara


Ini sekedar warning bagi saudara-saudara yan sering bepergian menggunakan pesawat terbang, Jangan mengira bahwa barang-barang yang dimasukan ke dalam bagasi pesawat aman. Justru sebaliknya, barang yang masuk di bagasi sangat rawan dan rentan untuk dipreteli oleh tangan-tangan jahil yang tidak berperikemanusiaan. Mereka tega berpesta ria dengan hasil curiannya, sementara pemilik barang yang kehilangan mengalami stress dan menderita berkepanjangan. Sungguh perbuatan yang tidak beradab dan pantasnya dihukum dengan cara ditangkap dan dibuang dari atas pesawat yang terbang di ketinggian 100.000 kaki diatas permukaan laut.

Saya beberapa waktu lalu mengalami kehilangan barang yang menurut saya sangat berharga. Barang tersebut saya masukkan dalam tas yang dimasukkan ke dalam bagasi. Kejadiannya di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Tas dan gemboknya masih utuh tetapi isinya raib tak berbekas. Awalnya saya mengira ada tuyul di dalam bandara. Tetapi setelah saya mencari informasi dengan menghubungi berbagai pihak terkait, menceritakan kronologinya di media online, serta melakukan investigasi dengan cara saya sendiri, maka saya berkesimpulan bahwa ada “Mafia” di dalam Bandara Soekarno-Hatta. Memang statemen yang saya sampaikan perlu dibuktikan secara hukum, tetapi indikasi kearah simpulan saya sangat jelas dan terang.

Penumpang yang lebih awal datang melakukan chek in di Bandara, lebih berpeluang menjadi sasaran bidik petugas bagasi. Hal ini karena, rentang waktu proses penyiapan bagasi di dalam ruang lebih lama. Sehingga petugas lebih leluasa mengacak-acak isi bagasi sebelum dimasukkan ke dalam pesawat. Modus ini tidak berjalan sendiri, karena dipastikan didukung dengan informasi dari petugas yang ada di bagian Exrey yang telah meneropong apa saja isi tas penumpang. Perkongsian antara petugas Exrey dengan pengurus bagasi juga dipastikan dilakukan dengan sepengetahuan petugas sekurity. Kenapa saya katakan sekurity juga mengetahui, karena proses pengurusuan bagasi pada saat cek in dan masuk ke dalam ruangan petugas bagasi sampai diantar ke dalam pesawat selalu dalam kawalan security. Logikanya sederhana, karena securitylah yang punya kewenangan untuk mengawasi dengan ketat aktivitas petugas bagasi dan melaporkan apabila ditemui kejanggalan dalam proses pengurusan bagasi. Namun faktanya untuk kasus yang pernah saya alami, setelah dilakukan konfirmasi, pihak maskapai penerbangan mengakui tidak pernah menerima laporan dari security terkait adanya tindakan tidak terpuji dari petugas bagasi. Apakah jawaban maskapai penerbangan tersebut, hanya sebagai dalih untuk lepas dari tanggungjawab ? Kalau jawabannya iya, maka bisa memunculkan dugaan bahwa pihak maskapai juga dicurigai terlibat dan harus bertanggungjawab dalam jaringan bejat perampokan bagasi penumpang.

Saya baru sadar sekarang setelah dikasih tahu oleh seseorang rekan kompasianer, bahwa resleting tas penumpang dapat dengan mudah dijebol tanpa merusak tas ataupun gembok pengunci. Hal inilah yang membuat pihak maskapai penerbangan, ketika mendapati laporan kehilangan isi tas penumpang, hanya berdalih, bahwa seandainya barang yang hilang ketahuannya di bandara, maka masih menjadi tanggungjawabnya. Tetapi bila ketahuan hilangnya ketika tas bagasi dibuka di luar bandara, maka bukan menjadi tanggungjawabnya. Sungguh jawaban yang hanya membuat makin pedihnya penderitaan pihak yang kehilangan barang.

Banyak kasus dan laporan penumpang terkait, kehilangan barang bagasi, namun sampai sekarang tidak ada langkah nyata dari institusi terkait terutama Pemerintah dalam menyeriusi persoalan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa Negara dianggap tidak mampu jika tidak boleh dikatakan gagal untuk memberikan jaminan terhadap rasa aman dan nyaman bagi penumpang yang melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang.

Kita berharap semoga kedepan, pihak pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan bisa menjadikan kasus maraknya kehilangan barang bagasi milik penumpang di Bandara sebagai salah satu program prioritasnya untuk diatasi. Kalau ini bisa terwujud dan tidak ada lagi kasus tangan jahil yang mencuri bagasi, maka 4 jempol harus kita angkat buat Kementerian Perhubungan. Tetapi kalau tidak berhasil maka saya sarankan sebagaimana diawal tulisan diatas, agar siapapun yang terbukti mengambil barang di bagasi, harus diberi hukuman dengan cara dibuang dari dalam pesawat yang sedang terbang di ketinggian 100.000 kaki diatas permukaan air. Semoga hal tersebut bisa menjadi alternatif solusi untuk mengatasi maraknya aksi perampokan bagasi penumpang yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

6 komentar:

  1. hati2 gan, kejahatan ada karena ada kesempatan

    BalasHapus
  2. Setujuuuu....maling2 itu bagus dan pantas di buang dr atas pesawat biar kapok...di dlm banyak tuyul pala hitam...baru2 ini tas saya isinya di kuras sm tuyul2 bandara...dan maskapai cm blg minta maaf akan dilanjutkan ke bagian terkait...prettt lah...pd cuci tangan lempar sana lempar sini...

    BalasHapus
  3. wah iya mesti ati2 ya...apa kabar teman?

    BalasHapus
    Balasan
    1. baik mba Fanny.. maaf blog bertahun2 diangurin, baru s4 mampir lagi ksini. Mba gmn kbrnya ? semoga sehat sllalu ya se keluarga

      Hapus